Selasa, 24 Februari 2009

Perpisahan_Terbukanya Gerbang Penyatuan DenganNya

Sebelum cinta penuh kesederhanaan ini menguap
Berlalulah keangkuhanmu di hadapan harapanku

Menertawakan rasa atau pengakuan yang terucap


Suaramu tetap mendayu rinduku

Hangatmu menampik keresahan mirip keringat hantu

Panggilan lirih di tengah malam

Tak membuat tidurmu terjaga

atau memupuskan mimpimu

Ragamu diam terlentang


Kanda

Tak terasa waktu berlalu

Berderai bersama celoteh naif

Senggama kataku yang telanjang

Welasmu menanting kekanakanku

Mengantar ke gerbang kemandirian


Sebelum cinta yang laksana daun

Bermula hijau dan berubah menguning

Kemudian luruh ke tanah

Menyelinaplah engkau di balik tangis pengharapanku

Bagian cerita tentang kemarahan naga yang menghanguskan

Melecutkan ekornya yang berduri
Memaksa kemandirian tumbuh
meski prematur

Ada banyak cerita saat kau tinggal aku sendirian
Berjingkat menjauh agar tak kudengar
Acuh bersama hujan, malam gelap, atau takdir di langit

Pergilah dari kerinduanku
Biar kunikmati sisa-sisa kesyahduan malam
ketika kau bernyanyi bersamaku
Meski hanya sebait lagu bernada sumbang

Senin, 23 Februari 2009

Puisi Cinta Seorang Hamba_Hanya Sepenggal Puisi CintaNya


Aku terhanyut dalam kesederhanaan cinta yang di tuturkan Sapardi Joko Damono. Kanda, puisi ini sangat menggodaku hingga memerahkan kerinduan yang tidak kau pedulikan.

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

Kahlil Gibran pun mengolok-olokku hingga aku tak kuat menatapmu. Kanda, maafkan jika perasaan ini melukaimu....

“Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini… pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang”

“Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya”

“Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku… sebengis kematian… Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara…, di dalam pikiran malam. Hari ini… aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan… sekecup ciuman”

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…”

“........"

Kemelekatan

Menghindari kemelakatan?
Allah tentu cemburu jika kita lebih melekat pada ruang, waktu dan semua yang menjadi ciptaanNya.
Tapi...aku jadi bertanya:
"Apakah usahaku menghindari kemelekatan ini, justru mengarah pada kemelekatan yang lain? Kemelekatan yang sebenarnya tidak lebih baik? Hanya berbeda ruang, waktu dan sesuatu?"

Kamis, 19 Februari 2009

Bercakap Di Sela Hujan_Meraba inginMu

Fulanah berkata:
Kanda...
Dibalut nyeri sepi
Aku sembunyi di balik tabir misteri
Tak terlihat
Tak terpahami

Dia mengizinkanmu tuk mengenalku
Tuk mengetahui kedalaman rasa
Dia mengizinkanku tuk mengikuti langkahmu

Inilah kemurnian
Tak tersentuh rasa ingin mengikat!
Kanda menjawab:
Bahkan misteripun masih terselubung tabir...?
misteri menyimpan banyak pertanyaan

ada yang harus dijawab bahkan
ada juga yang tak harus dijawab

namun untuk sebuah jawaban...

berapakah langkah dan nafas diperlukan?

atau jangan-jangan sampai nafas berakhir...
misteri kita jangankan untuk terpecahkan
bahkan untuk tersingkap pun....

ah...
semoga ada celah dariNya

untuk membukakan jendela bathin kita

amiin.

Minggu, 15 Februari 2009

Menanti Waktu Atau Menghadapi Waktu_Yang Manakah?

Kalau aku diam, sebenarnya sih bukan semata-mata karena aku pasrah. Atau, seperti aku bilang: "Toh waktu akan menunjukkan belang yang sesungguhnya".
Karena aku sendiri meragukan bahwa itu adalah wujud penghambaanku. Jangan-jangan ini adalah kelemahanku yang meragukan kekuatanNya untuk menolongku. Aku merasa tertinggal dan ditinggal tanpa kekuatan untuk ngapa-ngapain. Dan aku bukanlah seorang Sun Tzu ahli siasat yang mungkin menganggap kepasrahan itu sebagai bagian dari siasat.
Atau aku bilang: "Aku mengibaratkan diriku sebagai teks, yang bebas dibaca orang dengan nada apapun bahkan dimaknai bagaimanapun. Jadi kenapa aku harus pusing dengan apa yang dipikirkan orang tentang aku".
"Tapi jika kita bisa melakukan sesuatu dan membuat bacaan itu menjadi bacaan yang bermakna positif, kenapa enggak? Kita mungkin bisa ceria dan tidak merasa ada masalah apapun. Tapi, ternyata ada orang lain yang merasa bermasalah dengan kita, apakah kita akan diam saja? Kita berada di dunia yang sempit, ketidakharmonisan itu akan berdampak buruk terhadap dunia kecil kita..." ujarmu membuatku berpikir dari sudut yang beda.
Ah! Kau membuatku ingin berpuisi di hadapanmu dengan keegoanku yang telanjang...
Naga Es
Akulah Sang Naga
Aku ingin memuntahkan apiku
Aku ingin menelan kerusakan ini
dan menghanguskan bagian-bagian yang tak kusukai
Panasku beku dalam dingin marahmu
Marahku lenyap dalam beku diammu
Harapanku menggigil
Aku tak berdaya

Selasa, 10 Februari 2009

Ketidaksempurnaan kita_Sempurnanya CiptaanNya


Kanda...
Air mata menatap nanar pada pesan yang kau kirimkan:
"Tidak selalu orang dengan mudah memahami yang lain bahkan dirinya, begitu fluktuatif dan tidak konsisten, begitulah kita. Tapi yang pasti kita berada dalam jalan untuk ke sana. Kenapa harus dihentikan?"

Tergesa kutulis pesan balasan:
"Harapanku, aku bisa menjadi sahabat. Yang bisa peduli, meski dunia menolakku!"

Kanda, seluruh raga turut merasai tangis jiwaku. Aku terguguk menahan mual yang menohok. Ini pukulan luar biasa bagi keegoanku! Dan balasanmu membuat mataku redup, tak berdaya:
"Dunia akan menerima siapapun yang jadi makhlukNya. Insyaallah!"

Aku tidak berniat untuk menganggap semua yang sudah kita lewati adalah sesuatu yang tidak berarti. Tidak!
Aku hanya tidak sekuatmu.
Aku tidak memiliki cinta searif cintamu.
Aku tidak memiliki kasih sayang setulus yang telah Dia titahkan dalam hatimu.

Kanda...
Semoga Dia tidak membuatmu kecewa dengan kenaifanku
Marah karena kepicikanku
Benci dengan ketidakdewasaanku
Bosan dengan cinta yang tak kau inginkan

Kanda...
Inilah ketidaksempurnaanku, ketidaksempurnaan kita
Ataukah ini kesempurnaan kita yang sesungguhnya?

Minggu, 08 Februari 2009

Seperti Pawang Ular

Kanda...
Ingatkah pada lelucon ini?

Banyak baca, banyak lupa
Sedikit baca, sedikit lupa
Tidak pernah baca, tidak pernah lupa

Kalau dipikir, hal itu tidak hanya dalam hal baca aja kan?
Dalam segala hal!
Semua adalah pilihan!

Dari pilihan ini, akan bergulir pada tahap berikutnya
Misalnya, anak kelas 1 yang baru belajar membaca
Tidak akan di beri tes yang sama dengan kelas 6 yang sudah mahir
Setiap orang akan diuji menurut kesanggupannya

Pawang ular bukanlah pawang hujan
Pawang ular akan dipertemukan dengan ular
Pawang hujan akan dipertemukan dengan cuaca
Kalau dipikir, hal itu tidak hanya dalam hal kesanggupan aja kan?
Dalam segala hal!
Semua adalah keseimbangan!

Kanda...
Kenapa jiwa ini sulit sekali sejalan dengan pemikiran?
Aku ingin mereguk semuanya!
Tapi...
Aku ingin menafikan semua tes dan tahapan selanjutnya!
Betapa egois!

Aku Merasa Tidak Siap!

Kanda...

Senjamu
Sepimu
Tafakurmu
Terganggukah?

Selalu ada air mata
ingin ku antar pada kearifanmu
Selalu ada percaya
ingin kulabuhkan di jiwamu
Selalu ada tawa
ingin kubagi
selalu ada risau
yang mengingatkanku padamu
Selalu...

Aku bukan pemilik keselaluan ini
Tapi Sang Pemilikpun tak memberiku tanda
rasa ini akan berakhir...

Kanda...
Aku Percaya!

Minggu, 01 Februari 2009

Kita Bernaung di Bawah Langit Yang Sama

Kanda...

Langit kita sama
Tuhan kita juga
Masih menginjak bumi yang sama

Tapi...
Apakah doa kita sama?
Adakah harapan yang sejalan
Adakah kesejatian yang kita cari itu sama?

Ini tentang harapan!
Dari sepotong hati yang risau dan mendamba
Sesuatu yang lebih baik

Duhai insan yang diberi banyak keindahan

Temani aku meski dari kejauhan
Menapaki hidup
Merangkak diantara duka
Mensyukuri takdirNya
Mengingatkan aku yang terlupa!