Rabu, 29 Oktober 2014

Pesona


Hai hariku yang damai
Senyum mengembang sepanjang perjalanan
Mata rasa ingin menutup menikmati belaian udara
Dan tanganku merentang menari
Siangku yang basah
saat airmata tertumpah
di sana ada ambisi kemalasan dan kedengkian
menutupi tatapan teduhmu
meracuni cawan percayamu
dan...
senyum yang aku rindu kemanakah?
Begitu jengahkah kau dengan kehadiranku?
Sore yang lembab
dan aku tergesa pulang
menghayati setiap rintik
dan lumpur yang menggumpal di bawah sepatu
Kanda...
Semua berkelebatan tanpa henti
malam-malam yang sudah kita lewati
harapku yang melambung tinggi
kepedihanku yang tak terperi
dan sikapmu yng tak kumengerti
Tuhan...
bebaskan aku dari penjara ini!

Senin, 21 Juni 2010

Andai Kau Lebih.....


Waktu terus berlarian tak terkejar, demikian pula perjalanan kita yang sudah terpisah oleh simpangan meski akan mengantar kita pada tujuan sama. Kanda, mungkin menjadi kelaziman ketika kita berdiri di ketinggian, maka pemandangan di bawah akan tampak dramatis. Bisa kita lihat lebih indah atau malah sangat menakutkan.
Dengan penglihatan yang sangat terbatas, aku belajar memahami keberadaanmu. Ketinggian merubah sudut pandangmu menjadi tak terpahami lagi oleh kami yang menggeletak di bawah pijakan kakimu. Kepekaan yang mengkilapkan kebijaksanaan sosokmu menguap entah kemana. Cinta sekelilingmu mulai mengeriput kecewa dengan perubahanmu yang terasa tiba-tiba.
Kanda, keniscayaan jika kita tak bisa memaksakan apapun tanpa kesesuaian dengan kehendakNya. Dan kemanusiaanku menjadi pilu ketika pada akhirnya kau pun menemukan cinta dari sisi gelap yang ingin kau tutupi. Mengapa kau tak memilihku?

Rabu, 19 Mei 2010

Apapun Yang Kanda Ucapkan

Tahukah Kanda?

Bahkan kata yang menyakitkan dari bibirmu

Memacu semangatku untuk membuktikan diri

Tahukah Kanda?

Kata penuh dukungan yang kau berikan

Menguatkanku untuk terus berjuang

Tahukah Kanda?

Bahkan sekedar sapaan lirih

Membuatku merasa seluruh dunia peduli padaku

Tahukah Kanda?

Bahkan sesaat lirikanmu

Membuat hariku menjadi berwarna indah

Tahukah Kanda?

Hadirmu yang tak selalu ada

Membuatku belajar betapa besarnya kasih sayang Tuhan

Dan harapan itu selalu menyala…

Terima kasih untuk sapaan pagi ini

Selamat pagi “duh adinda yang penuh mimpi”!

Minggu, 17 Januari 2010

Ken Arok Berpetualang_Pilukan langit harapanku!

Terlalu keluguanku membaca kebaikanmu. Diri yang jarang tersentuh kebaikan inipun silau menafsirkan makna tersembunyi di balik senyumanmu. Aku gandrung! Aku wanita penuh harapan!
Kanda...
Terpaparlah sudah kepercayaan ini. Bisik-bisik yang bergulir di istana kecil kita membuatku terluka. Semakin tangguhlah dirimu memikat para Ken yang ada di sekelilingku. Anggunmu adalah senjata untuk meraih tahtamu yang lebih tinggi. Aku tak ubahnya Ken Umang yang kau bunuh dengan pedang Kepedulian!
Terlalu!

Kamis, 05 Maret 2009

Teringatmu_Teringat Masa Lalu_Teringat HikmahNya Yang dituturkan lewat Seorang HambaNya

Duh jiwa di kejauhan yang tidak sempat ku kenal. Hari ini kau mengingatkanku pada kata-katamu dahulu ketika air mataku tumpah gara-gara rasa asin di ujung cangkir. Bukan masalah besar sebenarnya, tapi aku melihatnya dari sudut yang saat itu tidak kau lihat. Kau berkata, jiwaku hanya seluas cangkir yang gampang retak! Gampang terluka. Diriku si mungil yang susah sekali untuk diajak bersikap dewasa.

Kau yang menginginkan aku bersikap seperti sebuah danau, yang ketika ditaburkan segenggam garam kepedihan maka tidak akan menimbulkan perubahan pada rasanya yang tawar. Kau bahkan mengharapkan aku menjadi lautan, meskipun kepedihan yang asin memenuhi kehidupannya, tidak membuatnya menolak orang mencari kehidupan di kedalaman lautnya, meskipun dia dirusak dan disakiti.

Kau yang kadang kuingat ketika menghadapi masalah yang membuatku bingung harus aku lihat dengan kacamata apa. Kadang masalah itu terasa sebesar gunung yang menutupi pandangan dan mempertaruhkan sebuah harga diri. Tapi kadang bisa juga hanya terasa seperti: Ah, cuma sepiring nasi aja kok! Ah, cuma secangkir air aja kok! Ah, cuma masalah dunia saja kok! Dan segala hal yang kadang bisa dianggap cuma, tapi bukan berarti percuma!
Kau di mana kini?

Senin, 02 Maret 2009

Kemarahan pada pemimpin berotak picik!

Anjing busuk
Penjilat beraroma tahi
Melihat semut di kejauhan
Aib di badan tak terendus!

Berkhotbah bak orang suci
Menatap jijik pada sekeliling
yang dianggap hina
Tak sadari, ilmu hanya setitik
dibanding keluasan ilmuNya

Anjing kau!

Selasa, 24 Februari 2009

Perpisahan_Terbukanya Gerbang Penyatuan DenganNya

Sebelum cinta penuh kesederhanaan ini menguap
Berlalulah keangkuhanmu di hadapan harapanku

Menertawakan rasa atau pengakuan yang terucap


Suaramu tetap mendayu rinduku

Hangatmu menampik keresahan mirip keringat hantu

Panggilan lirih di tengah malam

Tak membuat tidurmu terjaga

atau memupuskan mimpimu

Ragamu diam terlentang


Kanda

Tak terasa waktu berlalu

Berderai bersama celoteh naif

Senggama kataku yang telanjang

Welasmu menanting kekanakanku

Mengantar ke gerbang kemandirian


Sebelum cinta yang laksana daun

Bermula hijau dan berubah menguning

Kemudian luruh ke tanah

Menyelinaplah engkau di balik tangis pengharapanku

Bagian cerita tentang kemarahan naga yang menghanguskan

Melecutkan ekornya yang berduri
Memaksa kemandirian tumbuh
meski prematur

Ada banyak cerita saat kau tinggal aku sendirian
Berjingkat menjauh agar tak kudengar
Acuh bersama hujan, malam gelap, atau takdir di langit

Pergilah dari kerinduanku
Biar kunikmati sisa-sisa kesyahduan malam
ketika kau bernyanyi bersamaku
Meski hanya sebait lagu bernada sumbang